Pada umumnya pembentukan dan pertumbuhan sel otak bayi,
sebagian besar terjadi pada dua trimester awal kehidupannya di dalam
kandungan. Akibat dari pertumbuhan cepat yang terjadi pada bayi di
bulan-bulan awal kehamilan tersebut, maka hal ini akan menyebabkan pada
akhir trimester kedua yaitu saat usia kehamilan memasuki akhir minggu
ke-26, bayi sudah memiliki sekitar 150 milyar sel otak.
Banyak
orang tua yang belum mengetahui dan menyadari, bahwa sesungguhnya
seorang bayi di dalam kandungan yang berusia 3 bulan sudah mulai
mempunyai perasaan. Ya, perasaan dimana dia sudah mengetahui bagaimana
rasanya senang, sedih dan takut. Kemudian pada saat bayi tersebut
berusia 4 bulan dalam kandungan, dia sudah mulai belajar mendengarkan
suara dari luar, bahkan dia lama kelamaan akan dapat membedakan mana
suara ibunya, ayahnya, orang dekatnya maupun orang yang asing dan juga
suara dari benda dan aktifitas atau peristiwa yang terjadi di luar
rahim. Suara dari luar ini akan terus merangsang organ indera bayi
tersebut di dalam kandungan sekaligus juga akan mendorong pertumbuhannya
dan terbukti bahwa hal ini mempunyai peran yang sangat penting juga
bagi pertumbuhan intelegensia sang bayi tersebut. Hal ini jugalah yang
kemudian mendasari teknik bagaimana merangsang otak dan intelegensia
sang bayi melalui cara memperdengarkan bayi tersebut dengan musik-musik
klasik.
Pada dasarnya cortex cerebral (bagian
dari otak yang sangat penting dalam proses untuk mengingat,
memperhatikan, menyadari, berpikir, mengerti bahasa dan lain sebagainya)
bayi dalam kandungan sudah terbentuk pada usia kehamilan 5-6 bulan.
Nah, apabila pada masa ini diperdengarkan musik ataupun dilakukan
pemijatan lembut pada bagian perut ibu, maka hal ini akan dapat membantu
dalam proses peningkatkan pertumbuhan intelegensia sang anak. Jadi,
pada saat kandungan itu telah berusia lima bulan (setara dengan 20
minggu kehamilan), kemampuan bayi di dalam kandungan untuk merasakan
stimulus, telah berkembang dengan cukup baik sehingga proses pendidikan
dan belajar di saat bayi masih berada di dalam kandungan dapat dimulai
atau dilakukan.
Adapun emosi dari seorang ibu
yang sementara mengandung, akan sangat dipengaruhi dan dapat tercipta
melalui cara ia merasakan kehamilannya, bagaimana menyusun rencana
memandikan bayi, mendekorasi atau mengatur kamar dan tempat tidur bayi,
suasana perkawinan yang langgeng saat kehamilannya, pekerjaannya,
kesehatan atau apa pun yang dipikirkan dan dikerjakan seorang ibu atau
calon ibu. Pemikiran dari seorang wanita hamil merupakan hal utama yang
menjadi awal dari munculnya emosi yang sangat berkaitan erat dengan
kehamilannya. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi seorang ibu hamil
untuk selalu berpikir positif dan selalu berusaha menyeimbangkan
pikirannya dengan hal-hal yang baik.
Emosi adalah
titik awal dari bereaksinya hormon terhadap sel saraf yang akan
disalurkan kepada bayinya. Saat seorang ibu hamil merasakan kegelisahan,
tertekan atau ketakutan, hormon stres dengan sendirinya akan mengalir
melalui aliran darah dan mengenai plasenta sang bayi dan kemudian
diteruskan kepada bayinya. Adapun pemikiran negatif seringkali merupakan
akar penyebab dari rangkaian reaksi stres yang dipicu oleh karena
adanya perasaan takut. Ketika mengalir ke dalam plasenta, hormon dari
ibu yang mengalami stres kronis ini akan mengacaukan distribusi aliran
darah pada janin, sehingga dapat mengakibatkan perubahan karakteristik
psikologi termasuk emosi sang bayi. Stres bisa mengaktifkan sistem
kelenjar endokrin dari tubuh sang jabang bayi ini dan tentu saja akan
mempengaruhi perkembangan otaknya. Seorang anak yang terlahir dari rahim
seorang ibu yang selalu mengalami stres berlebihan semasa kehamilannya,
sangat mungkin akan memiliki kelainan perilaku dalam kehidupannya kelak
setelah dewasa nanti.
Ibu hamil yang mengalami
stres yang ekstrim dan tak berkesudahan punya kecenderungan memiliki
bayi yang prematur, memiliki berat badan di bawah rata-rata, hiperaktif,
mudah marah dan kolik pada perutnya. Sedangkan pada ibu yang dapat
mengontrol emosinya, dengan berpikir yang positif dan tenang akan
terjadi hal yang sebaliknya, yaitu akan menyebabkan kemajuan bagi
kesehatan dan pertumbuhan si jabang bayi. Jika sang ibu juga selalu
memikirkan hal-hal yang menyenangkan, maka perasaan tersebut akan
disalurkan dan masuk ke dalam otak sang bayi, dengan demikian akan mampu
menghasilkan keseimbangan, kebahagiaan, dan watak yang tenang sepanjang
kehidupan si anak kelak.
Pada saat Ibu merasakan
kegembiraan, tubuhnya akan memproduksi zat kimia alami, seperti
endorfin dan ensefalin. Keduanya merupakan neuropeptida yang bersifat
sebagai zat penenang yang merupakan agen penghilang rasa sakit yang
secara alami dihasilkan oleh tubuh, dengan demikian akan memberikan efek
yang meredakan ketegangan otot dan menenangkan sistem saraf simpatetik,
sehingga otomatis juga akan membantu mengendalikan rasa sakit serta
dapat meningkatkan sirkulasi darah dari ibu ke bayinya. Pada saat Ibu
merasakan ketenangan dan kedamaian, tubuhnya akan menghasilkan reaksi
kimia yang serupa dengan resep obat penenang tersebut. Tanpa stres,
sistem saraf yang dapat mengakibatkan kejang pada bayi serta kontraksi
pada rahim ibu akan bekerja dengan sangat pelan, sehingga pertumbuhannya
akan stabil. Dengan demikian, dia akan bertumbuh dengan baik dan
cerdas. Ketika Ibunya tenang dan terfokus, bayinya juga akan tumbuh dan
berkembang dalam keadaan penuh damai.
Semoga para
calon ibu maupun ibu yang masih akan mengandung, dapat mempunyai
pengetahuan yang bertambah dengan membaca uraian singkat ini. Begitu
pula akan memiliki kesadaran yang tinggi, tentang pentingnya pengelolaan
otak bayi yang dikandungnya dengan melakukan pengelolaan terhadap emosi
dan perilakunya.
Komentar
Posting Komentar